Pulau Bali, yang dikenal sebagai Pulau Dewata, bukan hanya terkenal karena keindahan alamnya, tetapi juga karena kearifan lokal masyarakatnya dalam menjaga keseimbangan antara manusia dan alam. Filosofi hidup masyarakat Bali yang dikenal sebagai Tri Hita Karana — yaitu harmoni antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesama, dan manusia dengan alam — menjadi dasar kuat dalam menjaga kelestarian lingkungan hidup di pulau ini seperti menurut situs https://dlhbali.id/.
Namun, seperti banyak daerah lain di Indonesia, Bali juga menghadapi berbagai tantangan lingkungan. Peningkatan jumlah penduduk, pertumbuhan pariwisata, alih fungsi lahan, pencemaran, dan pengelolaan sampah menjadi persoalan yang memerlukan perhatian serius. Untuk mengatasi tantangan ini, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Bali menyadari bahwa kerja sama lintas sektor sangat penting, terutama dengan komunitas adat yang memiliki pengaruh besar di tengah masyarakat Bali.
Sinergi antara DLH Bali dan komunitas adat menjadi kunci dalam menjaga kelestarian alam Bali. Kolaborasi ini tidak hanya memperkuat implementasi kebijakan lingkungan, tetapi juga menghidupkan kembali nilai-nilai tradisional yang selama ini telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.
Peran Strategis Komunitas Adat dalam Pelestarian Lingkungan
Komunitas adat di Bali memiliki peran penting dalam mengatur kehidupan sosial dan budaya masyarakat. Desa adat atau desa pakraman memiliki otoritas tersendiri dalam mengatur urusan adat, termasuk dalam hal pengelolaan lingkungan.
Beberapa kearifan lokal yang secara alami mengajarkan masyarakat untuk menjaga alam di antaranya:
- Subak: Sistem irigasi tradisional yang mengatur distribusi air secara adil dan berkelanjutan.
- Awig-awig: Peraturan adat yang mengatur berbagai aspek kehidupan, termasuk pelestarian hutan, sungai, dan sumber daya alam lainnya.
- Upacara dan ritual adat: Banyak upacara keagamaan di Bali yang erat kaitannya dengan penghormatan kepada alam, seperti tumpek uduh (hari penghormatan kepada tumbuhan), dan tumpek kandang (penghormatan kepada hewan).
Dengan tradisi yang masih kuat ini, komunitas adat menjadi mitra yang sangat strategis bagi pemerintah, khususnya DLH, dalam program-program pelestarian lingkungan.
Langkah DLH Bali dalam Membangun Sinergi
DLH Provinsi Bali memahami bahwa pelestarian lingkungan tidak bisa hanya dilakukan melalui pendekatan birokrasi atau peraturan semata. Dibutuhkan pendekatan kultural dan partisipatif yang menyentuh masyarakat secara langsung. Oleh karena itu, DLH Bali secara aktif membangun sinergi dengan desa adat dan tokoh-tokoh masyarakat melalui berbagai pendekatan, seperti:
1. Dialog dan Sosialisasi Kebijakan Lingkungan
DLH Bali secara rutin mengadakan dialog bersama para pemangku adat, tokoh masyarakat, dan prajuru (pengurus) desa adat untuk menyampaikan kebijakan lingkungan yang tengah dijalankan oleh pemerintah. Dalam pertemuan ini, pemerintah mendengar aspirasi masyarakat dan menjelaskan pentingnya keterlibatan semua pihak dalam mengatasi masalah lingkungan, seperti pengelolaan sampah, pencemaran air, dan alih fungsi lahan.
Kegiatan dialog ini juga menjadi ajang untuk menjelaskan program-program prioritas, seperti Bali Energi Bersih, Bali Bebas Plastik Sekali Pakai, dan Bali Resik Sampah Plastik, yang memerlukan dukungan dari masyarakat adat.
2. Pelibatan Desa Adat dalam Program Bali Resik
Program “Bali Resik” merupakan gerakan gotong royong yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat untuk membersihkan lingkungan dari sampah. Dalam pelaksanaannya, desa adat berperan sebagai koordinator kegiatan di tingkat komunitas.
Banyak desa adat di Bali yang telah menetapkan hari khusus dalam seminggu atau sebulan untuk melakukan kegiatan bersih-bersih lingkungan, yang disebut sebagai krama resik. Kegiatan ini mencakup pembersihan sungai, jalan, pura, serta area publik lainnya. DLH Bali mendukung kegiatan ini dengan memberikan fasilitas, pelatihan, dan dukungan logistik.
3. Penguatan Aturan Adat dalam Perlindungan Lingkungan
DLH Bali mendorong desa adat untuk memasukkan peraturan-peraturan pelestarian lingkungan ke dalam awig-awig atau peraturan adat mereka. Misalnya, beberapa desa adat kini melarang penggunaan kantong plastik dan styrofoam, serta menetapkan sanksi adat bagi warga yang membuang sampah sembarangan atau merusak hutan.
Dalam hal ini, peraturan adat menjadi lebih efektif dibanding peraturan formal, karena memiliki kekuatan moral dan sosial yang sangat dihormati oleh masyarakat.
4. Program Pengelolaan Sampah Berbasis Sumber oleh Banjar
DLH Bali mengembangkan program pengelolaan sampah berbasis sumber yang melibatkan banjar (kelompok masyarakat di bawah desa adat). Setiap banjar didorong untuk memiliki Tempat Olah Sampah Setempat (TOSS) atau sistem pengolahan sampah berbasis komunitas. Program ini sangat efektif karena dikelola oleh masyarakat sendiri, dengan dukungan teknis dari DLH.
Komunitas adat berperan dalam menyosialisasikan program ini kepada warga, memantau pelaksanaan di lapangan, serta memberikan sanksi sosial kepada warga yang tidak patuh terhadap tata cara pemilahan sampah.
5. Pelatihan dan Pendidikan Lingkungan Berbasis Budaya
DLH Bali juga menggandeng tokoh adat dan tokoh agama untuk memberikan pelatihan dan edukasi lingkungan kepada masyarakat. Materi pelatihan tidak hanya mengandung aspek teknis, tetapi juga mengaitkannya dengan nilai-nilai lokal dan ajaran agama Hindu Bali.
Dengan pendekatan ini, pesan-pesan lingkungan lebih mudah diterima dan dimaknai oleh masyarakat sebagai bagian dari ajaran hidup mereka, bukan sekadar himbauan pemerintah.
Kisah Sukses: Kolaborasi Nyata DLH dan Komunitas Adat
Beberapa desa adat di Bali telah berhasil menjadi contoh kolaborasi yang sukses antara pemerintah dan komunitas dalam menjaga lingkungan. Misalnya:
- Desa Adat Pererenan di Badung yang menerapkan larangan keras terhadap penggunaan plastik sekali pakai dan menyediakan fasilitas daur ulang sampah berbasis komunitas.
- Desa Adat Penglipuran di Bangli, yang terkenal sebagai desa terbersih di Bali, memiliki aturan adat yang sangat ketat dalam menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan.
- Desa Adat Tenganan di Karangasem, yang mempertahankan hutan adat secara turun-temurun, dengan sanksi adat bagi siapa pun yang merusaknya.
Contoh-contoh ini menunjukkan bahwa ketika aturan pemerintah bertemu dengan kearifan lokal, maka hasilnya bisa sangat efektif dan berkelanjutan.
Manfaat Jangka Panjang dari Sinergi Ini
Kerja sama antara DLH Bali dan komunitas adat bukan hanya menghasilkan lingkungan yang lebih bersih dan lestari dalam jangka pendek, tetapi juga memberikan manfaat jangka panjang yang sangat berarti, antara lain:
- Meningkatkan kesadaran masyarakat secara kolektif tentang pentingnya menjaga alam.
- Menumbuhkan rasa tanggung jawab sosial dan spiritual terhadap lingkungan.
- Menguatkan peran desa adat sebagai penjaga nilai-nilai budaya dan alam.
- Membangun ketahanan lingkungan dan budaya di tengah arus modernisasi.
- Menjadikan Bali sebagai contoh provinsi yang mampu mengharmoniskan tradisi dan pembangunan berkelanjutan.
Tantangan dan Langkah Selanjutnya
Meskipun sudah banyak kemajuan, sinergi antara DLH dan komunitas adat juga menghadapi tantangan, seperti:
- Kurangnya sumber daya di beberapa desa adat untuk menjalankan program lingkungan.
- Masih adanya benturan antara kepentingan ekonomi (misalnya pariwisata) dan pelestarian lingkungan.
- Belum semua masyarakat mematuhi aturan adat yang berkaitan dengan lingkungan.
Untuk itu, DLH Bali terus memperkuat pendampingan, memberikan pelatihan, serta meningkatkan komunikasi dengan para tokoh adat agar kerja sama ini semakin solid.
Ke depan, diharapkan sinergi ini bisa meluas ke bidang-bidang lain, seperti konservasi hutan, pelestarian mata air, pengelolaan energi terbarukan, dan edukasi lingkungan di kalangan generasi muda.
Penutup
Sinergi antara Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Bali dan komunitas adat merupakan contoh nyata bagaimana pelestarian lingkungan bisa berjalan efektif dengan menggabungkan kekuatan formal dari pemerintah dan kearifan lokal dari masyarakat. Dengan semangat gotong royong dan rasa cinta yang mendalam terhadap tanah kelahiran, masyarakat Bali telah membuktikan bahwa menjaga alam adalah bagian tak terpisahkan dari budaya mereka.
Ketika pemerintah dan masyarakat adat berjalan seiring, maka alam Bali akan tetap lestari — bukan hanya untuk generasi sekarang, tetapi juga untuk anak cucu di masa depan.
Sumber: https://dlhbali.id/
